Seputar berita terkini dan teraktual tentang berita umum, teknologi, olahraga dan juga informasi lifestyle baik itu gosip, kuliner, tempat menarik dan sebagainya

Ads

Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Bagaimana Hukumnya Percaya Kepada Zodiak?

Percaya Hanya Kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala 

Percaya Hanya Kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala

Sebagai muslim tentu kita mengerti betul bahwa kita wajib untuk percaya dan ta'at kepada Allah Ta'ala. Dalam Al Qur'an, Allah Ta'ala berfirman: “Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah” (QS. An Naml: 65).

Oleh karenanya agak lucu ketika mengaku sebagai muslim yang percaya Allah Ta'ala tapi percaya juga dengan apa yang dikatakan oleh Horoscope/Zodiac atau apapun itu namanya. Coba simak hadits berikut. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim no. 2230).
Apabila sampai membenarkan atau meyakini ramalan tersebut, maka dianggap telah mengkufuri Al Qur’an yang menyatakan hanya di sisi Allah pengetahuan ilmu ghaib. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaٍ “Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9532)
Share:

Muslim di AS Perjuangkan Hari Libur Sekolah Saat Idul Fitri

muslim di as

Komunitas Muslim di area Montgomery County, Maryland, Amerika Serikat kini tengah memperjuangkan agar sekolah negeri bisa libur tak hanya saat perayaan Natal dan Paskah, tetapi juga saat Idul Fitri dan Idul Adha. Para siswa Muslim mengaku dirugikan jika terpaksa meliburkan diri di hari-hari raya tersebut. 

Dilansir dari VOA News, Rabu, 24 Juni 2015, salah seorang siswa sekolah bernama Musa mengaku setiap kali ada perayaan Idul Adha dan bertepatan dengan hari sekolah, maka dia terpaksa membolos. 

"Itu jadi catatan buruk di rapor saya dan saya tidak menyukai itu," kata Musa. 

Seorang aktivis Muslim, Zainab Chaudry, mengatakan walau bolos sekolah terkait perayaan keagamaan seperti itu dibolehkan, namun anak-anak Muslim seperti Musa tetap mengalami kerugian. 

"Pelajaran di kelas terus berjalan. Sementara, guru tetap mengajar. Jika ada ujian yang dijadwalkan hari itu, anak-anak yang memutuskan untuk tidak masuk akan tertinggal ujian itu," papar Chaudry. 

Kaum Muslim di wilayah Montgomery County sempat melihat ada kesempatan di tahun 2015, sebab Idul Adha akan jatuh bersamaan dengan libur Yahudi, Yom Kippur, yang telah ditetapkan sebagai hari libur di area itu sejak tahun 1970an. Saat itu, dewan pendidikan mengetahui 15 persen siswa dan guru di wilayah tersebut tidak masuk sekolah. 

Usulan itu bahkan didukung oleh pemimpin umat Yahudi, Rabbi Batya Steinlauf dari Dewan Hubungan Masyarakat Yahudi di wilayah Washington D.C. Steinlauf mengatakan Idul Fitri dan Idul Adha seharusnya dimasukkan ke dalam kalendar sekolah sebagai salah satu cara mengakui keragaman di Montgomery County. 

Sayangnya, anggota dewan pendidikan skeptis dengan pernyataan tersebut. 

"Institusi publik seharusnya tidak mengurusi hari libur keagamaan," kata ketua dewan pendidikan, Phil Kauffman. 

Alih-alih mengakui libur bagi umat Muslim, dewan pendidikan malah memilih untuk menghapus semua nama hari libur keagamaan dari kalendar sekolah, termasuk Natal, Paskah dan libur Yahudi. Kendati, sekolah tetap dinyatakan libur pada hari-hari tersebut. 

Orang tua dan aktivis Muslim, Saqib Ali dari organisasi Equality for Eid Coalition, mengatakan keputusan dewan pendidikan adalah suatu kesalahan. Ali menyebut, akan ada reaksi keras dari masyarakat luas terhadap sekolah. 

“Sepertinya dewan melakukan upaya apapun agar tidak memberikan persamaan hak kepada komunitas Muslim,” kata dia.

Sumber: http://dunia.news.viva.co.id/news/read/642805-muslim-di-as-perjuangkan-hari-libur-sekolah-saat-idul-fitri
Share:

Al Quran Menguak Peristiwa Penciptaan Langit dan Bumi

Proses penciptaan langit dan bumi memang hanya menjadi rahasia Allah SWT. Meski sudah banyak fakta-fakta yang ditemukan dari penelitian untuk mengetahui bagaimana penciptaan alam semesta, namun hal itu hanya sebatas teori dan tidak bisa dijadikan sebagai acuan. Dalam Al-Quran Allah SWT hanya memberikan keterangan global dan tidak terperinci. Akan tetapi dari ayat dan Sabda Nabi Muhammad SAW, manusia bisa mendapat gambaran bagaimana alam ini pada mulanya diciptakan.
 Sebagai umat Islam pastinya kita wajib mengimani apa yang ada di dalam Kitab Allah SWT serta Sabda Nabi Muhammad tentang penciptaan ini. Sementara manusia terbatas akalnya untuk menemukan kebenaran kejadian masa silam meski dengan perkembangan teknologi yang serba modern seperti saat ini.

Waktu yang dibutuhkan untuk menciptakan langit dan bumi.

Dalam kitabnya Allah secara jelas berfirman bahwa alam semesta diciptakan selama enam hari. Hal ini dijelaskan dalam banyak Surat. Seperti dalam QS. al-A’raf: 54 yang artinya:

Quote:
“Sesugguhnya Tuhan kalian, yaitu Allah, Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy. (QS. al-A’raf: 54).

“Sungguh Aku telah menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada diantara keduanya dalam 6 hari, dan Aku tidak merasa capek.” (QS. Qaf: 38).
Namun makna enam hari yang disebutkan Allah SWT masih juga menjadi misteri. Kata ‘hari’ dalam bahasa Arab digunakan untuk penyebutan waktu dari terbitnya matahari hingga terbenam. Namun apakah sama dengan enam hari milik Allah? Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat dalam memahami kata ‘hari’ terkait proses penciptaan alam semesta.

Seperti yang diungkapkan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa An Nihayah. Ia menyebutkan dua pendapat ulama terkait kata enam hari yang terdapat dalam Al-Qur’an. Makna pertama yang diungkapkan mayoritas ulama adalah hari yang sama dengan yang dilalui manusi asekarang ini, yaitu mulai dari terbit fajar sampai dengan terbenamnya matahari..
 Pendapat kedua mengatakan bahwa perhitungan satu hari disisi Allah sama dengan 1000 tahun dalam perhitungan manusia. Ini diriwayatkan Ibnu Abbas, Mujahid, ad-Dhahak, Ka’b al-Ahbar, dan pendapat yang dipilih oleh Imam Ahmad sebagaimana keteragan beliau dalam ar-Rad ‘ala al-Jahmiyah.

Langit dan bumi, siapa yang terlebih dahulu tercipta?

Ini tentu menjadi pertanyaan yang membutuhkan penelitian bertahu-tahun jika ditelieti oleh manusia. Namun Allah SWT dala Al-Qur’an menjelaskan bahwa sebenarnya bumi lah yang terlebih dahulu Dia ciptakan. Hal ini diungkapkan dalam surat Fushilat ayat 9 hingga 12. Allah menyebutkan bahwa Dia menciptakan bumi terlebih dahulu sebelum langit yang artinya
Quote:
“Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam”. (9) Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan penghuninya dalam empat hari. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati” (Q.S Fushilat:9-12)
Ibnu Katsir yang menafsirkan ayat ini mengatakan bahwa Allah SWT jelas mengatakan bahwa Dia menciptakan bumi terlebih dahulu baru langit. Bumi merupapan pondasi sehingga harus terbangun terlebih dahulu. Lalu langit diciptakan kemudian sebagai atapnya sesuai dengan firman Allah QS. al-Baqarah: 29 yang artinya:
Quote:
“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian, kemudian Dia berkehendak (beristiwa) menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit (al-Baqarah: 29)”
Ibnu Katsir melajutkan dengen menjelaskan firman Allah di surat an-Nazi’at

Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Dia memancarkan dari bumi mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. (QS. an-Nazi’at: 27 – 33).

Dalam ayat ini disebutkn bahwa Dahyu al-Ardi (penyempurnaan bumi) dilakukan setelah menciptakan langit. Bentuk ad-Dahyu, ditafsirkan pada ayat, “Dia memancarkan dari bumi mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.” Dan ini dilakukan setelah penciptaan langit. Adapun penciptaan bumi, ini dilakukan sebelum penciptaan langit berdasarkan nash (dalil tegas). (Tafsir Ibnu Katsir, 7/165).

Allah menciptakan bumi dalam 2 hari, kemudian Dia menciptakan langit. Kemudian dia beristiwa ke atas langit, lalu Allah sempurnakan langit dalam 2 hari yang lain. Kemudian Allah daha al-Ardha (menyempurnakan bumi). Bentuk penyempurnaan bumi adalah dengan Dia keluarkan dari bumi mata air, tumbuh-tumbuhan, Allah ciptakan gunung, benda mati, dataran tinggi, dan segala yang ada di antara langit dan bumi, dalam 2 hari. Itulah makna firman Allah, “Bumi dihamparkannya.” Sementara firman Allah, “Dia menciptakan bumi dalam 2 hari.” Diciptakanlah bumi dan segala isinya dalam 4 hari dan diciptakan semua langit dalam 2 hari. (HR. Bukhari secara Muallaq sampai al-Minhal, 16/85).

Quote:
Kesimpulan dari keterangan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Allah menciptakan bumi 2 hari belum sempurna dan belum ada isinya. Kemudian menciptakan semua langit dalam 2 hari, dan terakhir Allah mengisi bumi dengan tumbuhan, gunung, benda-benda dalam 2 hari.
Share:

Pages

Follower

Popular Posts

Label

Arsip Blog

Recent Posts

Unordered List